TIKET MAHAL, SOLUSI ABAL-ABAL REZIM DARI TEGUR TRAVELOKA HINGGA UNDANG MASKAPAI ASING


Oleh : Nasrudin Joha

Entah, apa yang difikirkan pejabat negeri ini. Mereka ini mengelola negara memikirkan rakyat atau hanya memikirkan perut mereka. Tidak jarang, ketika rakyat mengeluh butuh solusi atas masalah yang mereka hadapi, pejabat di negeri ini suka asbun, asal bunyi.

Orang bodoh jika ditanya suatu urusan, sering mengeluarkan jawaban ajaib. Dulu, TDL mahal kepala PLN kasih solusinya cabut meteran. Cabe mahal, Mendag suruh tanam sendiri, atau tawar lah. Daging mahal, Mentan minta makan bekicot. Sarden ada cacing, Menkesnya bilang mengandung protein. Beras mahal, rakyat diminta Ganjar makan tiwul bahkan kata Mba Puan diet dulu lah.

Sekarang juga sama, tiket pesawat mahal. Menhubnya lagi lagi mengeluarkan fatwa ajaib. Jika dirunut, semua jawabannya ajaib :

*Pertama,* tiket pesawat naik gapapa biar semua bisa naik bus. Biar bus kebagian berkah Lebaran. Dikiranya Jakarta - Papua, Jakarta - Makasar, bisa ditempuh pake bus. Kadang-kadang jawabannya kalau diurut kayak tidak melalui proses berfikir. Jadi, diproses dari perut langsung ke mulut, tidak melewati kepala dan otak.

*Kedua,* tiket pesawat naik nyalahin traveloka dan tiket dot kom. Hello ? Mereka ini siapa ? Cuma calo, cuma makelar tiket, mereka dapat untung juga Ga seberapa, mereka mengandalkan kuota. Klo yang pesan turun drastis seperti saat ini, mereka juga ikut terpukul.

Yang punya wewenang nentukan tarif tiket itu maskapai, yang punya regulasi dan wewenang untuk mengatur maskapai itu Pemerintah Cq Menhub. Kok nyalahin rakyat yang cuma jadi makelar ?

*Ketiga,* level kengawuran dan jawaban ajaib itu naik dari mulut sang menteri ke mulut presiden. Katanya, solusi tiket pesawat naik adalah undang maskapai asing. Lah, kapan kelar ? Ini Lebaran sudah tinggal beberapa hari. Bisa Sim salabim undang maskapai asing ?

Lagipula, problemnya bukan kelangkaan armada, tapi harga tiket yang tak terjangkau. Dampaknya? Sekarang semua penerbangan turun drastis. Kalau pesawat kosong, meski tarif naik apa itu tidak membuat maskapai nasional menjerit ?

Dulu, tiket naik katanya karena harga aftur naik sehingga undang pemain asing main bisnis hilir aftur di bandara. Sekarang alasannya apa mau undang maskapai asing ? Agar suplai penerbangan tinggi sehingga harga tiket turun ?

Bisnis penerbangan bukan bisnis kacang goreng yang bisa naik turun atas mekanisme pasar. Ada otoritas negara yang mengelola dan mengatur.

Coba lihat tarif TDL dan BBM yang naik, apa publik bisa menghukum PLN dan Pertamina dengan tidak membeli listrik dan BBM dari pasokan mereka ? Tidak bisa. Rakyat tidak bisa menghukum pasar, tapi rakyat yang dihukum produsen sehingga terpaksa membeli dengan harga berapapun yang disediakan pasar.

Barang yang bersifat publik, menguasai hajat hidup rakyat banyak, kendali harga itu ada pada negara, bukan mekanisme Pasar. Karena itu, negara yang punya tanggung jawab jangan dilempar kesalahan pada mekanisme pasar.

Karena itu, tarif tiket pesawat mahal itu bukan salah traveloka, bukan juga salah maskapai domestik. Itu murni kesalahan negara yang tak becus mengelola hajat hidup rakyat.

Awas, jangan malah menyalahkan rakyat, menyalahkan Lebaran, menyalahkan konsumen kenapa ngotot naik pesawat. Kan masih ada delman ? Masih ada Gojeg ? Grabcar ? Bahkan masih ada sepeda ontel.

Sontoloyo semua penguasa negeri ini ! [].

Mereka Ini yang Mau Merampas Kemenangan Prabowo

Oleh : Asyari Usman

KPU berani ambil risiko besar. Mereka tidak takut akibat manipulasi perolehan suara paslonpres 02. Dengan enteng mereka jawab ‘salah ketik’. Human error. Boleh dikatakan mereka tak perduli teriakan-teriakan keras publik terhadap input angka-angka yang merugikan Prabowo dan menguntungkan Jokowi.

Nah, mengapa KPU begitu berani? Apa yang membuat mereka berani melakukan kecurangan secara terang-terangan?

Siapakah yang sangat gigih dan bersikeras agar Jokowi dinyatakan menang meskipun dengan cara yang curang?

Kekuatan macam apa yang berada di belakang Jokowi sehingga berbagai instansi negara siap menjalankan perintah-perintah yang bertentangan dengan aturan hukum dan etika politik demi kemenangan dia?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebelumnya tak pernah terlintas. Tapi, lama kelamaan muncul juga. Ada sesuatu yang terasa luar biasa dalam kontestasi pilpres 2019 ini, yang membuat deretan pertanyaan itu akhirnya mengemuka.

Tetapi, belum lagi sempat menjawab pertanyaan yang berderet-deret itu, muncul pertanyaan lain. Apakah Jokowi ‘one man show’? Mungkinkah dengan latar-belakang karir politiknya yang ‘pas-pasan’ itu (mohon maaf), Jokowi mampu membangun dirinya menjadi presiden yang ‘ditakuti’ semua orang? Sehingga semua titah dia tentang ‘aku harus dua periode’ menjadi wajib direalisasikan?

Kelihatannya, teori Jokowi ‘being feared of’ (ditakuti) sulit masuk akal. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, kecil kemungkinan Jokowi ditakuti oleh semua orang. Dia tidak memiliki keistimewaan historis yang membuat semua orang menjadi gemetar mendengar dia bicara. Apalagi pada era sekarang ini. Era yang menggunakan literasi sebagai indikator kompetensi dan profisiensi. Sangat tidak mungkin Jokowi menjadi presiden yang ‘ditakuti’.

Karena itu, kita akan memunculkan pertanyaan berikutnya: ada apa, sebenarnya? Mengapa begitu kuat upaya untuk mencurangi hasil pilpres 2019 ini? Siapakah yang sangat berkepentingan dengan Jokowi dua periode?

Mari kita identifikasi. Bahwa ada beberapa pihak yang sangat ingin agar dia melanjutkan jabatan presiden lima tahun lagi.

Pertama, Jokowi adalah tumpuan harapan para konglomerat pengisap kekayaan rakyat, termasuk --dan terutama-- para konglomerat hitam. Yaitu, para konglomerat rakus yang menjalankan bisnis secara sewenang-wenang di bawah perlindungan orang-orang kuat. Diperkirakan, mereka ini akan ‘terkencing-kencing’ kalau Prabowo yang menjadi presiden. Bagi mereka, Jokowi harus dua periode. Karena mantan walikota Solo itu bisa dikendalikan.

Kedua, RRC ikut dalam barisan yang habis-habis menudukung “wajib dua periode” itu. RRC memiliki mimpi indah untuk ‘menduduki’ Indonesia, baik itu dalam arti pendudukan fisik maupun dalam arti hegemoni ekonomi. Yang sangat jelas adalah, Beijing menyimpulkan bahwa ambisi global mereka melalui ‘jalur sutra gaya baru’ (Belt Road Initiative, BRI) hanya mungkin terwujud jika Jokowi duduk lagi sebagai presiden.

Bagi RRC, Indonesia adalah mata rantai yang sangat penting (krusial) dalam upaya mereka untuk menyukseskan BRI. Sebab, Indonesia adalah pasar dan lahan yang paling empuk untuk dijadikan ‘koloni’ RRC atas nama BRI itu. Dalam beberapa tahun ini, Beijing sengaja mendekap Indonesia dengan pinjaman investasi untuk berbagai proyek infrastruktur.

Tujuan investasi itu tidak lain adalah memikat negara ini untuk masuk ke perangkap utang. Sekarang, Indonesia sudah hampir sempurna masuk ke perangkap utang RRC. Tetapi, insyaAllah, masih bisa diselamatkan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.

Kalau kemenangan Prabowo tidak dirampas, maka RBI itu akan terhenti total. Ambisi hegemoni ekonomi China menjadi ‘aborted’ (gagal). Jadi, inilah teori kedua tentang ‘Jokowi wajib menang’.

Ketiga, ada segelintir elit yang mengkampanyekan bahwa Presiden Prabowo akan mendirikan negara khilafah. Tudingan ini sama sekali tidak memiliki dasar historis dan empiris. Catatan sejarah prakemerdekaan, masa-masa kemerdekaan, dan pascakemerdekaan menunjukkan bahwa umat Islam tidak pernah menjadi komponen yang egosentris, apalagi ‘selfish’. Sebaliknya, kaum musliminlah yang selalu dijadikan antagonis (musuh) oleh penguasa dzolim. Ini catatan sejarah. Sampai hari ini.

Begitulah keculasan para elit jahat yang selama hidupnya bermental korup dan berwatak brutal. Mereka terus-menerus ingin mendiskreditkan umat Islam demi kenikmatan diri mereka. Mereka ceramahkan kepada kelompok-kelompok minoritas bahwa Prabowo akan mendirikan khilafah.

Kalangan minoritas pun merasa takut. Para elit yang 5-6 orang itu memanfaatkan ketakutan ini. Padahal, semua orang paham reputasi Pak Prabowo sebagai prajurit TNI yang menjadikan NKRI dan kebinekaan sebagai harga mati.

Atas dasar agitasi yang menyesatkan itulah, berkembang pendapat bahwa Prabowo tidak boleh menjadi presiden. Jangan sampai dia menjadi presiden. Elit penghasut dan kalangan yang dihasut kemudian ‘bersepakat’ untuk menghalangi Pak PS.

Mereka itulah yang sekarang mengatur skenario perampasan kemenangan Prabowo di pilpres 2019. Cuma mereka lupa bahwa hari ini bukan 2014.

( Penulis adalah Guru Besar UIKA, Dewan Penasehat ICMI )

Ketika Para Ulama Merapat ke 02


Diawali dengan dukungan tegas dari Ustadz Bachtiar Natsir (UBN) kepada pasangan capre Prabowo dan Sandiaga Uno, akhinrya beberapa ustadz kondang juga menyatakan dukungan yang sama, seperti Ustadz Hilmi Firdausi (UHF), Ustadz Abdul Shomad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAH), dan Aagym.

Tentunya dukungan Ustaz-ustadz ini membawa dampak yang tidak sedikit kepada para pemilih. Yang asalnya sudah mantap pilih 02 semakin mantap dan yakin akan pilihan mereka, yang semula ragu-ragu bisa meyakinkan pilihan mereka ke 02, bahkan yang semula anti pati dengan 02 bisa berbalik arah menjadi simpati dengan 02.

Ibaratnya, para Ustadz ini adalah 'SERANGAN FAJAR' bagi para calon pemilih, secara moral siapa sih yang tidak mengenal UAS, UAH, dan lain sebagainya itu? Mereka tidak mungkin mendapat bayaran dukungannya, mereka tidak mungkin meminta jabatan atas dukungannya itu. Tentu ini adalah panggilan jiwa, panggilan hati.

Bisa disaksikan, betapa massif pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kubu 01, mulai dari  susahnya perijinan kampanye 02 di daerah-daerah, penghadangan peserta kampanye yang tidak dilakukan sama dengan kubu 01, dan terakhir kampanye akbar di GBK yang memobilasi massa dengan menginteruksikan karyawan BUMN nya, dan masih banyak lagi. 

Namun sungguh, semakin ditekan justeru gelombang perubahan ini semakin besar dan semakin besar. Masyarakat sudah MUAK dengan tingkah plah rejim ini yang TAJAM KE OPOSISI dan TUMPUL KE PENDUKUNGNYA.

Di mana-mana kampanye 01 selalu sepi peminat, kalaupun ramai para penyelenggara harus mengeluarkan banyak duit karena harus membayar mereka, memberi makan mereka, bahkan memobilisasi mereka. 

Berbeda jauh dengan paslon 02, yang bahkan sebaliknya, mereka rela merogoh koceknya untuk paslon ini, berlomba-lomba memberi makan dan minum saudaranya saat kampanye. INILAH PANGGILAN IMAN.

Maka saatnya Anda memilih dengan akan sehat, siapa orang-orang yang di belakang kedua paslon tersebut. Lihatlah pihak 01, mereka didukung oleh para waria, dan sudah barang tentu partai-partai pendukung penista agama.

Tapi lihatlah paslon 02, di belakang mereka banyak ulama-ulama hanif yang siap memberi masukkan, memberi peringatan, dan memberi nasehat jika ada penyimpangan amanah yang diembankan ke pundak mereka.

Jadikan Rabu, 17 April 2019 sebagai HARI KEMENANGAN INONESIA dengan TUSUK 02 PRABOWO SANDI.

SALAM 2 JARI, SALAM AKAL SEHAT.

@emthorif

Tabayun


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Pada asalnya perintah tabayyun itu merupakan bagian dari larangan berbaik sangka (husnuzhan) terhadap berita yang disampaikan oleh orang-orang yang fasik. Jadi, tabayyun itu satu paket dengan sikap hati-hati, tidak mudah percaya dan bersikap cermat manakala ada orang fasik menyampaikan kabar berita.

Apakah kita berprasangka buruk kepada mereka? Tidak. Tetapi bukan pula berprasangka baik. Yang perlu kita tegakkan ialah sikap hati-hati, tidak menetapkan penilaian dan diam terhadap desas-desus maupun kabar yang masih belum dapat kita verifikasi meskipun kabar itu disampaikan oleh orang yang masyhur, hingga jelas betul kedudukannya. Kita mengambil sikap tawaqquf (berdiam diri tidak memastikan sikap).

Terhadap orang fasik, kita hendaklah tidak mendahului prasangka baik. Kita berhati-hati. Jangan sampai prasangka baik itu menyebabkan kita terjatuh pada kesalahan yang sangat fatal.

Ingatlah firman Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an:

ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮٓا۟ ﺇِﻥ ﺟَﺎٓءَﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻖٌۢ ﺑِﻨَﺒَﺈٍ ﻓَﺘَﺒَﻴَّﻨُﻮٓا۟ ﺃَﻥ ﺗُﺼِﻴﺒُﻮا۟ ﻗَﻮْﻣًۢﺎ ﺑِﺠَﻬَٰﻠَﺔٍ ﻓَﺘُﺼْﺒِﺤُﻮا۟ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﻧَٰﺪِﻣِﻴﻦَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka tabayyunlah (periksa dengan teliti), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujuurat, 49: 6).

Perhatikan, Allah 'Azza wa Jalla menyebut perintah tabayyun beriring dengan peringatan mengenai resiko jika mengabaikan, yakni menimpakan musibah kepada suatu kaum.

Saya jadi teringat dengan perkataan Al-Mawardi dalam Adabud Dun-ya wad Din:

مَنْ حَسُنَ ظَنُّهُ بِمَنْ لَا يَخَافُ اللَّهَ تَعَالَى فَهُوَ مَخْدُوعٌ

"Barangsiapa berprasangka baik kepada orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala maka sungguh dia telah hancur tertipu."

Sebagian ulama memaknai nasehat Al-Mawardi tersebut dengan menyatakan, "Berprasangka baik kepada orang buruk, adalah sikap dungu yang bikin ambruk."

Lalu apa itu tabayyun? Konfirmasi. Memastikan kebenaran informasi.

Kerapkali kita memerlukan tatsabbut, yakni memastikan maksud dari berita yang sudah terverifikasi tersebut. Misalnya beredar potongan video seseorang menerangkan tentang keyakinan sesat suatu kelompok yang menyimpang. Awalnya perlu tabayyun, yakni memastikan apakah betul orang tersebut mengatakan hal itu ataukah tidak. Semisal ternyata benar, perlu tatsabbut, yakni melakukan penelusuran mengenai maksud dan konteks perkataan tersebut. "Oh, ternyata perkataan tersebut dalam rangka menunjukkan contoh keyakinan sesat, tetapi video sengaja dipotong oleh pihak lain sehingga tidak tertangkap maksudnya dengan benar." Nah, dal hal ini ada tabayyun dan sekaligus ada tatsabbut.

Belakangan, istilah tabayyun sering sekali dipakai bahkan oleh orang yang tidak tahu peruntukannya. Maknanya telah terlepas begitu jauh dari pengertian pokoknya. Misal pernah ada yang berkata, "Tabayyun dulu. Memangnya situ sudah baik? Memang Anda sudah dapat menjamin diri Anda nanti pasti masuk surga?" Perkataan ini jelas melenceng jauh dari makna tabayyun. Lebih pasnya introspeksi (muhasabah).

Di komentar media sosial, sering terjadi penggunaan kata tabayyun untuk memojokkan atau untuk mementahkan perkataan. Padahal yang dimaksud bukan tabayyun. Tetapi saya sering memilih untuk diam tak membantah, bukan karena takut dipatahkan bantahan saya, melainkan mengingat sebuah nasehat:

إِنَّ فِي إنْصَاتِك لِلْجُهَّالِ زِيَادَةً فِي الْحِلْمِ، وَفِي إنْصَاتِك لِلْعُلَمَاءِ زِيَادَةً فِي الْعِلْمِ

"Diam saat menghadapi orang bodoh menambah kesantunan. Diam saat bersama orang alim menambah pengetahuan."

Utrecht, 8 April 2019

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku-buku parenting

PAK PRABOWO, Kami Memilih Anda (Lagi), Tapi...


Oleh : Salim Afillah
Assalaamu'alaikum Pak @prabowo; saya Salim A. Fillah, yang 5 tahun lalu menulis surat dukungan untuk Bapak menjelang Pilpres 2014 dari Melbourne dan telah Bapak tanggapi.

Tahun ini, saya merasa belum perlu memperbarui surat itu. Bahkan dukungan kami untuk Bapak kian bulat, sebab apa yang kami tulis dalam surat itu sebagai sebuah kekhawatiran kian banyak buktinya telah terjadi; dalam aspek ekonomi yang berat dirasa oleh masyarakat kecil, aspek sosial yang karut-marut karena pemerintahan yang tak berwibawa dan tak merangkul,  hukum yang tumpul kepada pendukung dan tajam kepada pengkritik, serta pertahanan-keamanan negara yang rapuh di sisi imigrasi dan ketenagakerjaan, hingga deretan janji tak terlaksana serta ancaman ketakberesan Pemilu sebab ada yang ingin menang dengan segala cara.

Tapi Pak... Tentu Pak Prabowo dan Mas @sandiagauno bukan pilihan yang sempurna. Kami hanya memilih yang dirasa lebih baik atau setidaknya lebih sedikit keburukannya. Maka mohon ingatlah kembali apa yang kami sampaikan 5 tahun lalu;

https://salimafillah.com/pak-prabowo-kami-memilih-anda-tapi/

(Atau google saja; 'Salim A. Fillah Pak Prabowo Kami Memilih Anda Tapi')

Kami memilih Anda Pak Prabowo, dan mohon jangan remehkan amanah ini. Sebab kami meniatkannya untuk ibadah, agar punya jawaban di sisi Allah jika ditanya apa yang kami lakukan untuk negeri ini. Jadilah pemimpin yang takut kepada Allah dan menyayangi kami.

Akhiran; yang amat penting juga; mari tetap cintai Pak @jokowi; dengan terimakasih dan hormat atas dharmabaktinya 5 tahun ini. Jika Pak Prabowo terpilih, rangkullah seluruh rakyat Indonesia dengan cinta, seperti seorang Bapak pada semua anaknya, senakal apapun anak itu. Hukum harus tegak; tapi padukan selalu keadilan dan kasih sayang.

Salam cinta dari ketinggian di Pamukkale, salam #IndonesiaMenang bersama #PrabowoSandi. Terizin untuk disebar sebagai syiar untuk rakyat Indonesia.
Foto : by google

Kasus MRT, Jokowi Kehilangan Simpati

Oleh : Tony RosyidPengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Saat ini, warga Jabodetabek sudah bisa menikmati transportasi publik Mode Raya Terpadu (MRT). Cukup 30 menit dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Kalau pakai mobil, bisa 1,5 jam. Hemat 1 jam. Lumayan, pakai banget.

Uji coba gratis MRT sudah dibuka tanggal 12-23 maret. Diperpanjang lagi gratisnya hingga 31 maret. Baru tanggal 1 April nanti bayar. Tentu atas ijin dan keputusan Anies Rasyid Baswedan, gubernur DKI. Jokowi "dihaturi" untuk ikut uji coba. Selaku kepala negara, sekaligus sebagai mantan gubernur DKI. Bahkan Anies pun memberi panggung kepada Jokowi untuk meresmikannya. Sebuah bentuk "tatakrama" kapada seorang presiden dan mantan gubernur DKI 2012-2014. Mengingat MRT adalah proyek strategis nasional.

Jadi panggung capres nomor 01 dong? Anies gak ada urusannya dengan pilpres. Kerja sesuai schedule yang beberapa tahun sebelumnya sudah ditetapkan. Mungkin sebelum jadual pilpres ada. Disiplin dan komitmen mesti jadi prinsip seorang pejabat negara bekerja. Tak boleh terkontaminasi oleh kepentingan politik.

Usai uji coba, Jokowi dikerubuti sejumlah penumpang. Pak Jokowi...Pak Jokowi... Teriak mereka. Tak diketahui identas orang-orang yang teriak itu. Spontan, atau dipersiapkan. Menarik untuk diketahui siapa mereka. Kok? Biasanya gak seperti itu. Seringnya, kalau Jokowi dan Anies jalan bareng, teriakan yang sering keluar adalah Pak Anies...Pak Anies... Kali ini beda. Wajar kalau orang pada nanya: gak seperti biasanya?

Lalu selfie. Biasa, seperti yang publik sering lihat. Soal ini Pak Jokowi gak mau ketinggalan. Punya hobi tersendiri. Selfie sudah jadi kegemaran presiden ke-7 ini.

Seperti dalam video yang viral, Anies tampak dicuekin. Ketika ditanya;  kok bapak dicuekin? Enggak. Biasa saja, jawab Anies. Tak ada protes. Gak bilang: "akan saya lawan". Gak juga. Seorang pemimpin sejati gak boleh baper. Kata-katanya terukur. Mikir dulu sebelum bicara. Bukan bicara dulu baru mikir.

Di depan awak media, Jokowi meresmikan MRT. Dalam sambutannya Jokowi mengatakan bahwa MRT adalah keputusan politik dirinya bersama Ahok. Hah! Jokowi tak menyebut nama lain. Anies, yang "nyumangga-aken" atau memberi kesempatan dan penghormatan kepada Jokowi untuk meresmikan MRT, tak sekalipun disebut namanya sebagai orang yang ikut terlibat dalam proyek MRT. Apalagi gubernur-gubernur sebelumnya. Sutiyoso pun ikut hadir atas undangan Anies. Tak juga disebut namanya. Kok bisa? Bisa aja!

Jangan kaget. Itulah Pak Jokowi. Terlalu sibuk kerja kerja dan kerja. Sehingga lupa keringat orang lain. Yang diingat adalah kerja dan keringatnya sendiri. Bagus. Itu namnya fokus. Kerja memang harus fokus. Dan fokus Pak Jokowi seringkali hanya pada diri sendiri. Kurang terbiasa, dan mungkin tak sempat melihat kerja orang lain. Apalagi membaca gagasan dan rencana orang lain. Gak ada waktu. Sudah terbiasa fokus.

Beda Jokowi, beda Anies. Jangan dibandingkan. Keduanya punya fokus yang berbeda. Mungkin peradabannya juga berbeda.

Dalam sambutannya, Anies mengatakan "ijinkan kami mengucapkan terima kasih kepada para gubernur-gubernur sebelumnya yang ikut mengawal dan mendorong proses MRT ini." Kata "kami" saya kasih tanda untuk menunjukkan kelas peradaban dan adabnya sendiri. Seorang pemimpin mesti sering-sering menggunakan kata "kami". Di situ ada pengakuan atas kerja bersama dan kebersamaan. Pemimpin tidak sendiri bekerja, tapi banyak pihak yang terlibat dalam gagasan, perencanaan hingga pekerjaan. Itulah 'kelas peradaban" seorang pemimpin.

Anies lalu menyebut satu persatu nama gubernur sebelumnya, Pak Sutiyoso, Pak Fauzi Bowo, Pak Jokowi, Pak Basuki Tjahaja Purnama (BTP). Ketika nama BTP disebut, para pengunjung teriak Ahok...Ahok...Ahok... Dan Anies pun terdiam sejenak dengan tetap menjaga senyumnya. Reda, lalu Anies menyebut Djarot Saeful Hidayat.

Terjawab sudah siapa para pengunjung itu. Ahokers dan para pendukung Jokowi. Teriakan Ahok seolah jadi jawaban atas dugaan itu. Tentu, tak ada yang salah. Biasa aja.

Wajar jika sebelumnya publik bertanya: kenapa nama Jokowi dan Ahok bergema disitu. Tapi, ya Sudahlah. Namanya juga tahun politik. Apalagi beberapa hari lagi ada pemilihan presiden. Apa saja bisa dimanfaatkan jadi panggung politik.

Anies tetap sebut Djarot, meski yang bersangkutan memilih "plesiran" bersama keluarga dari pada hadir dalam serah terima jabatan gubernur DKI. Diserahkan ke sekda yang dipasarahi jabatan gubernur hanya untuk satu malam sebelum jabatan itu diterima Anies. Lagi-lagi, seperti itulah seharusnya peradaban yang dibangun seorang pemimpin.

Karena sikap dan karakter beradabnya ini orang sering memanggil Anies Gubernur Indonesia. Gubernur rasa presiden. Malah ada yang mengira Anies adalah presiden Indonesia. Sepertinya itu adalah harapan dan doa.

Jelang pilpres, MRT seperti yang diduga banyak pihak sebelumnya, akan dijadikan barang jualan oleh Jokowi. Ternyata benar. Dan itu sah-sah saja. Karena Jokowi punya andil dalam proyek MRT ini. Hanya saja kurang cerdas. Dengan mengakui seolah itu hanya karya Jokowi-Ahok, justru Jokowi kehilangan simpati dari rakyat.

Sehari setelah itu, tanggal 25 maret, harian kompas menurunkan tulisan bahwa MRT itu ide dan gagasan BJ. Habibi. Keputusan politik dan orang yang pertama kali memulai pekerjaan ini adalah Fauzi Bowo, gubernur DKI sebelum Jokowi. Nah...

Ini kronologi singkatnya. Tahun 2006, saat Sutiyoso gubernurnya, ada persetujuan pembiayaan dari gubernur Japan Bank For Internasional Corporation (JBIC) Kyosuke Sinozawa dan Dubes RI untuk Jepang Yusuf Anwar. 2008 PT. MRT berdiri. Gubernur DKI saat itu Fauzi Bowo. 2010 design MRT dikerjakan. 2011 tender konstruksi dibuat. 2012 Ground Breaking MRT Lebak Bulus-HI. Ini masih di era Fauzi Bowo. Lalu di era Jokowi konstruksi MRT mulai dikerjakan. 2017-2018 era gubernur Anies, finalisasi pembebasan lahan dilakukan. 2019 MRT dituntaskan oleh Anies dan diresmikan.

Kalau saja Jokowi singgung ini, dan sebagai presiden ia mengucapkan terima kasih kepada Anies Baswedan dan gubernur-gubernur DKI sebelumnya, maka MRT akan jadi poin buat Jokowi. Sayangnya, kesempatan ini dimanfaatkan secara salah. Setidaknya, public communication Jokowi tak dikelola dengan baik. Akhirnya, malah blunder. Sayang sekali.

Ibarat dagangan, MRT itu barang bagus. Sayang, cara Jokowi menjual kurang bagus. Kualitas branded, dijual murah ala pasar tradisional. Apa yang kemudian terjadi? Tulisan Kompas justru jadi tamparan pedas buat elektabilitas Jokowi. Satu masalahnya: karena Jokowi kurang terbiasa mengakui prestasi orang lain. Di sinilah Jokowi seringkali kehilangan simpati.

Jakarta, 25/3/2019
Foto : by google

Perginya Akal Sehat

www.emthorif.blogspot.com || Bicara akal sehat, maka akhir-akhir ini sebagai simbol adalah mantan dosen filsafat Universitas Indonesia, Bung Rocky Gerung. Kalau di ILC nya Bapak Karni Ilyas tidak mengundang RG, maka temen-teman mengistilahkan "No Rocky No Party". Betapa kuatnya pengaruh celoteh RG ini tentang Akal Sehat.

RG ini terkesan ceplas ceplos, kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya seakan menghipnotis para pendengarnya. Sehingga wajar, pendukung petahana dibuat kewalahan, dibuat meradang. Sehingga tentunya beliau dibidik agar bisa dijebloskan ke penjara, dengan cara apapun. Ngeri bener kaaan...?

Bicara perginya akal sehat ini, masih hangat kasus Ahmad Dhani, musisi Indonesia, yang dengan cuitannya tanpa menyebut nama seseorang bisa digiring ke penjara. Bagi orang awam seperti saya ini menjadi pertanyaan besar, kemana perginya akal sehat ini? Apakah memang seperti ini cara kerjanya.

Karena apa?

Masih ingat kasus-kasus yang sudah dilaporkan tapi kasusnya tidak diproses? Banyak dari lawyer yang sudah melaporkan kasus-kasus tersebut. Nyatanya apa? Kasus-kasus yang ada ini tidak diproses oleh aparat kita.

Inilah perginya akal sehat ini. Ketika yang melaporkan condong berpihak ke pemerintah, kasus mereka segera diproses. Sangat berbeda ketika yang melaporkan adalah bagian dari oposisi, kasusnya seakan dibiarkan menguap begitu saja sehingga endingnya adalah kadaluarsa.

Sekarang, kita hidup di jaman akal sehat yang mahal harganya. Kemana perginya akal sehat ini?

Salam 2 Jari, Prabowo Sandi.

@emthorif